Sholat Ied + New Year Eve

December 30, 2006

Hmm…

besok sholat dimana ya? fu.fu.fu.
Sholat bareng temen2 se-kosan. rame pastinya..
Seandainya di rumah, huhuhu…

abis sholat ied, malemnya ngerayain tahun baruan, yihaaa… akhirnya ga manyun sendirian di kosan. tadi Dibon ngajakin jalan2 bareng. ga jelas mo kemana yang penting asik lah bareng temen2 banyakan.. sayang Rika di Jakarta..
tapi kalo mau ikutan rame2 ngerayaian malem tahun baruan, tugas kripto harus segera diselesaikan nih…
masak baru dapet 2 halaman. hehehe…

semangat2!! kripto2..  

 

Met hari raya Idul Adha bagi yang merayakan… 

Maling Puisi ne Inge Candra

December 21, 2006

Berikut conto puisi mbeling yang dimuat pada edisi ke-5 rubrik Puisi Mbeling.
Bunyi puisi itu:

Inge Candra:

Catatan 1972
Indonesia sayangku Indonesia
Yang menjamin hidup-hidup bangsa subur
Oleh suburmu yang subur
Suburnya korupsi dan pelacur suburmu
Suburnya tante girang dan penodong suburmu
Suburnya perampok dan pemerkosa suburmu
Apa lagi?
Hanya rambut subur pun dilarang.

 

Puisi Mbeling

Tiba-tiba mak-mben-du-nduk, pengen mbahas tentang puisi mbeling.

Ra ngerti, aku jadi  sinting pengen baca-baca puisi ini.
Sebagaimana di rangkaian huruf2 pada hasil colongan berikut ini:

" Dalam catatannya, Remy Sylado komentar untuk Jeihan: "Baginya seni adalah berak."
  Pada beberapa edisi sesudahnya, Remy Silado membuat pernyataan yang menarik tentang Puisi Mbeling :
  "Bagi kami puisi yang berbicara apa-adanya seperti puisi2 lugu inilah, puisi yang kontemplatif.
  Segalanya terbuka, tak pakai dewangga, tak pakai kerudung, tak pakai tabir
"
  Jika orang bertanya siapa avant garde dalam puisi kiwari Indonesia, tak susah carinya, sebab jawabnya: Kami-lah itu!"

*dewangga kain yang bergambar-gambar indah bercorak biru atau kuning pada dasar merah

Tanganku, pikiranku ga ‘nutut’ bisa nulis,
aku cm bisa nelen dan ngerasain begitu nikmat ke-nudis-an kumpulan huruf-huruf nya.
Ngakak sekaligus Ngeri… hiiiii……………….

Gusti Allah tidak Kampungan, EMHA AN

December 18, 2006
BERAGAMA YANG TIDAK KORUPSI

 

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.

"Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?".

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan".

"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" , kejar si penanya.

"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun.

"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi".

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.

Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.

Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana   dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.

Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.

Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.

Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya.

Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.

Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas).

Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.

Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport.

Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama:

ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya.

Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya.

Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.

Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri.

Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.

Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.

Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang \memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

Sang Jiwa

SANG JIWA

Lelah, lelah Sang Jiwa mencari belahannya.
Lelah, lelah Sang Jiwa bicara dalam kesunyiannya.
Melambung sendiri keatas awan nan hitam.
Tersesat di antara terangnya cahaya bintang.

Takdir kuharus merasakan sendiri manisnya air mata kesunyian dan menahan sendiri hantaman senyuman dari mereka yang telah mengenal belahannya.
Tersiksa dari ejekan kembang-kembang mawar yang menerima cinta dari Sang Surya,
Sepasang burung merpati yang saling kejar mengejar dengan bebasnya.

Begini kecilnya diriku dari kata cinta yang terdapat di sekelilingku.
Oh  Tuhan, aku berada di ambang penyerahan dari cobaanmu.
Oh  Tuhan, aku menyerah sekarang.
Sudilah memberi sepercik air kesejukan pada jiwaku.
Untuk dapat menempuh jalan pengembaraannya yang masih panjang, berliku-liku dan penuh dengan debu serta panasnya lingkungan sekitar.

Walaupun demikian, aku yakin diujung jalan yang penuh derita, desahan dan rengekan ini ada seorang yang menantiku dengan penuh kesabarannya, keluguan hatinya dan sejuknya ciumannya.

-Kahlil-

Terimakasih Telapak Kakiku…

Banyak cewek menganggap telapak kaki kasar dan pecah-pecah merupakan masalah yang besar. Pengen diobatin inilah, itulah biar mulus..
jadi biar cantique getho.. ^o^
Tapi aku harus bersyukur karena pernah punya telapak kaki yang pecah2 dan kasar
[walaupun sempet sibuk juga sih cari2 obat buat nyembuin, untung sekarang dah sembuh. hehehehe…]
ceritanya gini, kosan aku tuw kalo ujannya deres bgt. ruangan sebelum dapur selalu aja banjir bandang. halah berlebihan.. hehe
trus aku mo ke belakang gitu. otomatis harus lewat tuw ruangan. srooottt.. ggddubrakkk….ccciiitttt……
fiuhh…
terpleset bo’. untung aja ga jatuh..
tahu ga kenapa aku selamat? ya itu tadi, gara2 nya kaki ku yang kasar dan pecah2 itu. untung aja blom sembuh banget jadi bisa menambah gaya gesek. bisa buat ngerem gitu.. hehehe…

tuw kan.. jadi, ga selamanya sesuatu yang kita anggep jelek itu ga baik buat kita. karena pasti ada suatu kebaikan yang telah direncanakan oleh Nya. hehehehe…

Ranking ALgoritma Data Mining

December 10, 2006

Pas kuliah data mining, Bu Wanti pernah bilang kalo sekarang tuw lagi getol2 nya pencarian algoritma data mining yang paling dikenal (banyak dipake kali ya…)
ga sengaja tadi browsing2 dapet urutan peringkat itu, berikut algortima2 tersebut (dengan perhitungan citation dengan Google Scholar sampai akhir Oktober 2006 yang digunakan sebagai verifikasi):

Classification
#1. C4.5 (Google Scholar Count in October 2006: 6907)
#2. CART (Google Scholar Count in October 2006: 6078)
#3. Naive Bayes (Google Scholar Count: 498)
#4. K Nearest Neighbours (kNN) (Google SCholar Count: 183)

Statistical Learning
#5. SVM (Google Scholar Count in October 2006: 6441)
#6. EM (Google Scholar Count in October 2006: 848)

Association Analysis
#7. Apriori (Google Scholar Count in October 2006: 3639)
#8. FP-Tree (Google Scholar Count in October 2006: 1258)

Link Mining
#9. PageRank (Google Shcolar Count in October 2006: 2558)
#10. HITS (Google Shcolar Count in October 2006: 2240)

Clustering
#11. K-Means (Google Scholar Count in October 2006: 1579)
#12. BIRCH (Google Scholar Count in October 2006: 853)

Bagging and Boosting
#13. AdaBoost (Google Scholar Count in October 2006: 1576)

Sequential Patterns
#14. GSP (Google Scholar Count in October 2006: 596)
#15. PrefixSpan (Google Scholar Count in October 2006: 248)

Integrated Mining
#16. CBA (Google Scholar Count in October 2006: 436)     

Rough Sets
#17. Finding reduct (Google Scholar Count in October 2006: 329)

Graph Mining
#18. gSpan (Google Scholar Count in October 2006: 155)

Emm.. bener banget yak, pas kelompok Miri dkk presentasi dan Bu Wanti bilang kalo algoritma K-Means yang paling banyak digunakan untuk clustering….

Algoritma-algoritma ini adalah yang paling umum digunakan dalam data mining, tentunya dengan masing-masing modifikasi sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Mungkin semakin simpel algoritma tersebut akan jadi semakin populer. Banyak orang yang lebih tertarik untuk menggunakannya.

 

Kita tunggu!!! algoritma-algoritma mana yang termasuk 10 Well-Known Algorithm in Data Mining. Dilihat dari nominasinya, 18 algoritma tersebut akan bersaing ketat.

Referensi:
1. 10 Well-Known Algorithm in Data Mining. http://www.cs.uvm.edu/~icdm/algorithms/index.shtml.

 

yukk yak yuukkkk,….. emoticon 

 

 

 

SMU 1 Genteng - Banyuwangi

 

wahhh.. agak narsis neh..berikut foto SMU ku yang dijepret dari awang2…

huhuhu..terharu emoticon 

cerita dari sebuah gambar

December 8, 2006

 

 

Dari sebuah gambar, kita bisa membuat sebuah alur cerita….
Sebuah gambar merepresentasikan ribuan kata-kata

Tampak seorang gadis jepang yang baru nyampe di sebuah kota asing yang blom pernah dia datangi dengan membawa kopernya yang sangat besar.

Dia merasa kebingungan, dia tidak mengetahui dimana dia berada.
Gadis ini terlihat begitu lelah, bingung ga tau  mau berbuat apa, sedih…
Seperti layaknya kebanyakan orang Jepang, gadis ini hanya bisa sedikit english dasar.
Dia berharap akan ada seseorang yang bisa membantunya dan mengerti apa yang dia inginkan.
Gadis ini tidak membawa satu peta pun. Dia mencoba mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya. SIapa tau dia bisa mendapatkan ‘pencerahan’/inspirasi.

Tapi di balik itu semua dia tampak begitu terpesona dan merasa tentram oleh keindahan tembok batu tua disekilingnya

Tledor bgt

December 7, 2006

hahahaha….. pengen nya pulang cepet terus ngerjain tugas yg blom beres ehhh… lupa kalo kompie masih di tempat Febri Gendutt..

yahhh…terpaksa deh nyante2..nonton2 dulu [sengaja dink ga terpaksa] hahahaha….

trus udh capek nonton, ambil kompie and mo ngerjain tugasnya eh ternyata file2 yang aku donlot2 tadi di lab blom aku copy di flashdisk. dan dengan santainya tadi pulang ngehapus folder2 donlotan [pdahal biasanya ga pernah diapusin] eh ternyata smua yang aku hapus2 itu blom satupun yang aku copy di flashdisk….

hmmm..tledor banget d…tledor2..

yach, akhirnya harus online dari rumah buat donlot2 lagi. Maafkan aku ya Wo…

yukkk…..

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design